Hadir dengan Hati: Pengukuhan Kader P3LP Tahap 2 MTs Hasyim Asy’ari

12 May 2026 Admin Sekolah

Selasa, 12 Mei 2026 - Langkah nyata dalam menjaga kesehatan mental di lingkungan madrasah kini memasuki babak baru. Setelah melalui tahap sosialisasi bulan lalu, hari ini, 12 Mei 2026, terpilih 25 kader terbaik yang secara resmi mengikuti Pelatihan Tahap 2 Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bersama tim ahli dari Puskesmas Sisir.


Sinergi Antar Generasi

Kader pilihan ini merupakan representasi terbaik dari setiap angkatan, terdiri dari 13 siswa kelas 8 dan 12 siswa kelas 7. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol kesiapan madrasah dalam membangun lingkungan yang suportif lintas jenjang.

Dalam pelatihan hari ini, para peserta dibagi menjadi dua kelompok diskusi intensif. Di sini, mereka tidak hanya dijejali materi teknis, tetapi juga diajak untuk mendalami esensi dari P3LP: bagaimana cara hadir dengan hati. Melalui diskusi kelompok, para kader belajar cara mendengarkan dengan empati dan memberikan dukungan awal yang menenangkan bagi teman sebaya yang sedang mengalami tekanan emosional.


Terbentuknya Struktur Kepengurusan

Sebagai bentuk keseriusan dalam menjalankan program ini ke depannya, telah dibentuk susunan pengurus kader P3LP MTs Hasyim Asy’ari. Selamat kepada para siswa yang terpilih mengemban amanah sebagai pemimpin garda kesehatan jiwa madrasah:

  • Ketua: Revania Dwi Widianto (8I)
  • Wakil Ketua: Alano Ainur Ridho (8C)
  • Sekretaris 1: Deeri Prayata (8F)
  • Sekretaris 2: Alsya Mylea Putri (8A)


Tujuan dan Harapan Besar

Tujuan utama dari pelatihan tahap kedua ini adalah membekali para pengurus dan anggota terpilih dengan keterampilan praktis untuk menjadi "pendengar setia" di kelas masing-masing.


Manfaat kedepannya, kehadiran 25 kader ini diharapkan mampu menciptakan atmosfer sekolah yang lebih sehat secara psikologis. Dengan adanya struktur kepengurusan yang solid, setiap masalah mental yang dialami siswa dapat terdeteksi lebih cepat dan ditangani dengan penuh kasih sayang, sehingga prestasi akademik dan kebahagiaan siswa dapat berjalan beriringan.


"Menjadi penolong bukan hanya tentang tahu apa yang harus dikatakan, tapi tentang kesediaan untuk ada dan mendengarkan."